Untuk para bintang-bintang kecil di gunung

Penulis : Irwanti “Fia” Hadnus – Relawan Kelas Inspirasi Sulawesi Barat – Polewali Mandar#1

“Ilahi telah memberi kita hidup dengan Cuma-Cuma. Ibu pertiwi memberi kita tumpangan berdiri di atas perutnya dengan Cuma-cuma. So, mari kita membayar kehidupan dan tumpangan ini, juga dengan Cuma-Cuma. Cuma-Cuma yang bukan sekedar Cuma”

Saya baru dua bulan resmi domisili di Polewali Mandar. And you know, hal yang paling menyedihkan adalah loe hidup tanpa teman di satu tempat. Yap, meskipun tidak murni sendiri karena tinggal serumah dengan senior. Tapi, hidup berdua saja tidak cukup, kurang rame dan seru. Monoton. Beda kasus kalau yang couple (katanya sih begitu, saya juga belum pernah survei mengenai ini,hehe).

Selama dua bulan di sini karena tuntutan pekerjaan, kegiatan saya hanya berangkat kantor pagi dan pulang ke rumah petang. Hanya diselingi jogging di jalan tepi sawah, kayak anak hilang sendirian saat weekend. Tapi part jogging di weekend tidak pernah kusesali, karena itu adalah saat-saat yang keren dalam satu pekanku. Jogging sambil menghirup aroma-aroma kehidupan dari hasil kerja indah tangan-tangan tangguh, Petani.

Sekitar sebulan lalu seorang senior yang bertugas di BPS Provinsi Sulawesi Barat, sebelumnya pernah tugas di Polewali Mandar memberi info tentang Kelas Inspirasi. Saya disuruh tanya ke Mbah google untuk lebih jelasnya. Like fans page-nya di facebook. Waktu itu saya langsung tertarik. Suing..suing berselancarlah saya di dunia maya. Tapi, sayang sekali kurang fokus waktu itu. Ada banyak iklan lebih penting yang minta di selesaikan (red: kerjaan negara). Alhasil, saya tidak menemukan yang kucari. Terabaikan. Hingga tanggal 2 Juni 2014, saya diberi tugas oleh big bos membuat kuesioner monitoring survei yang sedang berjalan. Jam istirahat otak sudah sangat jenuh, akhirnya buka Mas facebook.

Saat asyik chat dengan salah satu Widyaiswara ketika prajabatan kemaren, saya ditanya tentang agenda weekend kali ini. Jujur belum ada. Tiba-tiba teringat dengan kelas inspirasi tempo hari. Lansung search. Jeng..jeng. Ketemu. Dan ternyata deadline untuk pendaftaran relawannya tinggal 2 atau 3 hari. Tanpa berpikir lebih jlimet lagi se-jlimet rumus-rumus statistik. Saya langsung daftar setelah membaca profil KI dan beberapa testimoni.

Hari kamis, saat saya masih dalam kondisi pemulihan jiwa (nah loh. Bukan, maksudnya pemulihan setelah collapse karena kelelahan dua bulan masa shocking culture), sekitar jam 19.30 WITA, saya mendapatkan sms dari salah satu panitia KI Sulbar Polewali Mandar. Isinya pernyataan di terima sebagai relawan pengajar. Saya memastikan dulu jadwal pelaksanaan hari inspirasinya. Ternyata pelaksanaannya bertepatan dinas luar, tapi masih sekitaran Kabupaten Polman. Deal. OK. InsyaAllah saya bisa.

Hari minggu 8 juni 2014, kami kumpul untuk briefing. Ketika masuk ke ruangan, saya melihat beberapa orang sedang memegang bundelan kertas. Semacam modul. Saya penasaran itu apa? Ternyata itu ada dalam attacment email yang dikirim. Hahay, karena keseringan di daerah dengan sinyal timbul tenggelam kayak di sapu ombak. Alhasil, email hp tidak sincron dan tidak terdeteksi. Jujur sampai detik saya menulis ini belum liat bagaimana rupa dalam email itu.

D-Day. Hari ini 9 juni 2014. Kami yang terbagi dalam 8 tim langsung menuju lokasi masing-masing. Saya berada di tim terakhir. Ini pun karena hasil nego. Menyedihkan sekali ketika orang-orang sudah mendapatkan tim masing-masing, dan nama saya tidak ada di tim mana pun. Wahahay. Akhirnya saya minta ke panitia untuk di masukkan ke tim paling jauh dan paling sulit medannya kalau bisa. Jiwa petualangnya sedang mengubun-ubun. Dan saya ditakdirkan di tim 8. MI DDI Biru. Lokasinya di Kecamatan Binuang, tapi medannya lumayan berat. Naik gunung dengan kondisi jalan licin. Tapi, di sinilah serunya. Fantastic, wonderful. Kanan kiri gunung dan lembah. Karena tingginya, laut sampai terlihat dari atas sana.

Sepanjang jalan disambut dedaunan hijau. Rasanya menyegarkan sekali bisa menghirup aroma tanah yang basah bercampur aroma klorofil dedaunan. Saat seperti ini sudah pasti akan membuka masker penutup hidung. Menarik nafas panjang membiarkan udara segar memenuhi kantung-kantung paru-paruku. Menahannya sejenak untuk menikmati saripati alam. Sekedar tambahan info nih, menurut salah satu instruktur selfdefense yang pernah kutemui, menghirup nafas dalam-dalam bisa menjadi sumber tenaga dalam yang besar.

Perjalanan menuju ke sekolah tujuan berbagi inspirasi memang fantastic, tetapi bukan hanya itu. Semua yang di sana juga fantastic bagi saya. Kondisi sekolahnya terus terang jauh dari bayangan saya. Meskipun kondisi sekolah seperti MI DDI Biru bukan hal asing juga, tapi tetap saja sempat menampar masa kanak-kanak saya. Maklum saja, terbiasa hidup di daerah dataran rendah dengan kondisi tanah kering berpasir dan sekolah dengan halaman luas. Sehingga di jam istirahat bisa main kejar-kejaran bebas di halaman sekolah tanpa perlu takut becek. Sedih membayangkan bagaimana mereka menghabiskan masa-masa bahagianya dengan halaman kecil dan becek seperti itu? Tapi begitu melihat binar di mata mereka, semua hipotesisku tadi tertolak. Mereka bahagia meski dengan kondisi seperti itu.

Berdasarkan informasi awal, jumlah keselurahan siswa di MI DDI Biru sekitar 60 orang. Akan tetapi, setibanya di tempat ternyata yang bisa hadir hanya sekitar 48 orang. Kelas 1 sampai 6. Rencana awal kami membagi mereka menjadi 3 kelas batal. Tidak memungkinkan. Akhirnya diputuskan membagi 2 kelas saja. Sementara relawan pengajar ada 4 orang. Dua relawan pengajar masuk sesi pertama. Sementara saya masuk sesi ke dua. Sambil menunggu sesi pertama selesai, saya mengerjakan beberapa properti yang belum sempat diselesaikan semalam.

ImageSesi pertama berakhir. Yahooooo, ini saatnya saya masuk kelas. Kelas yang akan saya tempati berbagi ini gabungan kelas 1 sampai 3. Adik-adiknya masih kecil-kecil. Imut-imut. Aiiii,, kegemesanku terhadap anak kecil tiba-tiba ON. Beruntung tidak sampai mencubit pipi mereka satu-satu. Kondisi kelas sudah mulai semangat rupanya. Kakak relawan yang pertama masuk sudah berhasil membangun suasana. Pekerjaanku jadi lebih mudah kalau seperti ini. Itu hanya ada dalam pikiranku ternyata.

Menghadapi adik-adik kecil polos dan jujur ternyata tidak segampang menghadapi peserta di sebuah diklat yang isinya orang dewasa. Orang-orang dewasa, ketika kita meminta perhatian dan berbicara mereka bisa memaksakan diri untuk fokus. Tapi, adik-adik yang masih murni ini tidak demikian.

Kelas saya mulai. Ketika saya mengatakan “hallooo”, mereka semua sudah paham harus menjawab apa. Mereka menjawab dengan “Haiii”. Saya sengaja membangun antusiasme mereka dengan berkali-kali mengatakan “halloooo, hallooo ada orang di sini??” semakin lama, mereka semakin kompak dan antusias. Great. Ini sudah saatnya masuk ke tahap berikutnya.

Selanjutnya memperkenalkan diri dulu. Setelah saya memperkenalkan nama, giliran mereka. Satu persatu yang kutunjuk menyebutkan namanya dan diikuti oleh teman-temannya. Ini biar mereka merasa diperhatikan. Perkenalan selesai. Next step. Saya membuka gulungan kertas yang semalam saya corat-coret dengan berbagai warna. Isinya berjudul “Kelas Inspirasi”. Selanjutnya di sana ada nama saya dan tempat saya bekerja sebagai statistisi. Tepat di samping nama saya, ada gelar untuk mereka. Adik-adik yang kuberi gelar Anak-anak Bintang. Semuanya tertarik dengan apa yang tertulis di sana. Tetapi, sebelum memperkenalkan profesi lebih lanjut saya ingin membekali mereka sebuah brain gym sederhana dulu. Untuk melatih psikomotorik mereka. Brain gym sederhana ini saya dapatkan dari seorang Kakak penggiat pendidikan sewaktu diklat prajabatan. Oleh-oleh dari negeri Sakura dan negeri Gingseng (Jepang dan Korea) yang sudah dimodifikasi. Di kedua negeri itu, sebelum anak-anak masuk ke kelas mereka akan diberi senam otak dulu sekitar 5 sampai 15 menit. Itu dimaksudkan agar mereka berada di gelombang otak alfa. Meski sebenarnya anak-anak usia di bawah 10 tahun gelombang otaknya masih berada di zona Alfa. Senam otak yang kami lakukan sederhana, hanya terdiri dari 4 gerakan dengan namanya masing-masing. “tonji-tonji, cha-cha, yim-yim, tolah-toleh, cha-cha”. Mereka semangat ingin mengikuti saya. Senam ini diulang berkali-kali. Tapi, masih banyak yang belum bisa menghafal. Saya maklum saja. Ini hal baru bagi mereka.

Sekarang masuk ke inti dari alasan saya ada di depan mereka. Membagi informasi tentang siapa dan apa yang saya lakukan. Ketika memberi tahu bahwa saya seorang statistisi di Badan Pusat Statistik. Mereka semua melongo. Raut wajah mereka yang sepertinya baru pertama kali mendengar ada profesi statistisi, semacam sedang mengatakan “ELS”. “Emang Loe Siapa?”. Hahaha, menampar sekali rasanya. Jleb. “Aaaa, Mama pengen pulang aja”.

Sebelum saya sakit terlalu dalam (lebay). Mencairkan suasana saja dulu dengan menanyakan apa cita-cita mereka. Satu per satu dapat giliran. Jika saya proporsikan profesi yang mereka inginkan seperti ini: Laki-laki 40 persen Tentara, 40 persen Polisi dan 20 persen pemain bola; perempuan 80 persen guru, 15 persen dokter dan 5 persen Polwan. Jadi profesi yang mereka inginkan hanya ada 5 jenis.

Ini sebuah tantangan besar bagi saya untuk memperkenalkan apa itu statsitisi. Kembali mencoba menyentuh penalaran sederhana mereka. Menganalogikan profesi saya dengan hal-hal yang dekat dengan mereka. Yaitu matematika. Tapi sepertinya mereka tidak bakal ada yang menginginkan profesi ini begitu saya menyebut matematika. Terang saja, bagi sebagian anak-anak matematika itu mematikan. Hahaha salah analogi saya. Kesalahan cara mengajarkan matematika sudah menjadikan saya tumbal di hari inspirasi ini. Padahal kalau matematika diajarkan dengan melibatkan alam sekitar dan hal-hal sederhana, akan sangat menyenangkan. Ayo adik-adik kita menghitung semua rumput yang ada di halaman sekolah, kita kalikan dengan rumput yang ada di sepanjang jalan. Langsung balik kanan, kabur pulang ke rumah semua adik-adiknya.

Mendengarkan cita-cita mereka dan memaparkan profesiku sudah. Sekarang saatnya memberi mereka gelar. “Anak-anak Bintang”. Semua jadi antusias kembali. Di selembaran kertas tadi ada janji mereka untuk negeri ini. “Kami anak-anak bintang BERJANJI akan terus bersinar demi negeri kami tercinta, INDONESIA”. Ketika kutanya siapa yang ingin menjadi pemimpin membacakan ikrar anak-anak bintang di ruangan ini? Salah satu di antara mereka lansung tunjuk tangan. Maju. Kita membaca ikrar ini dengan sikap yang kuajarkan. Posisi siap dengan tangan kanan terkepal di dada dan tangan kiri terkepal di belakang. Sikap siap ala Shingeky No Kyojin. Salah satu anime yang paling kusukai. Hahaha, beginilah kalau pengajarnya pecinta anime. Saya jadi merasa punya pasukan pembasmi Titan. #salahfokus.

Waktu 30 menitku hampir habis, kami gunakan sisanya untuk bernyanyi. Saya menanyakan mau menyanyi lagu apa. Tiba-tiba bangku kedua dari belakang pojok sebelah kiri ada yang nyeletuk “Indonesia Pusaka”. Wah, fantastic. Sangat pas dengan suasana yang kita bangun. Selain itu, lagu ini yang membuat saya selalu ingin pulang ke Sulawesi sebagai bagian dari Indonesiaku, ketika merantau ke tanah Betawi. Saya meminta adik yang tadi mengusulkan untuk jadi pemimpinnya. Dia malu-malu, tapi saya minta teman-temannya untuk menyemangati. Akhirnya dia mau. Jadilah kami mendendangkan lagu karya Ismail Marzuki ini bersama-sama.

Sebagai penutup saya kembali menanyakan tentang cita-cita mereka sembari membagikan kertas untuk menuliskan cita-citanya. Hanya ada satu orang yang ingin jadi seperti saya. Asik, ada yang ingin tenggelam dengan rumus-rumus bersama saya. Selain itu, semua masih teguh dengan cita-cita awal. Tetapi, yang menarik ditengah-tengah diskusi kami ada yang selalu tunjuk tangan ketika saya bertanya siapa yang ingin jadi pemimpin. Dia adalah calon presiden Indonesia masa depan. Semua menuliskan cita-citannya di kertas dan menempelkannya dengan cara melompat pada kertas karton yang kusematkan di dinding. Melompat. Melompat. Melihat mereka seperti itu membuat saya menyadari bahwa mereka benar-benar anak-anak bintang yang akan menepati janjinya.

Waktu yang hanya 30 menit dengan encourage yang lumayan panjang karena proses menempelkan kertas cita-cita, berakhir juga. Cita-cita mereka, semoga semesta memeluknya. Membuatnya terwujud dengan cara yang paling ajaib. Seperti cara semesta yang telah membuat impian saya memiliki sahabat-sahabat kecil terwujud hari ini.

Beberapa hal yang menjadi perhatian khusus bagi saya adalah tentang cita-cita mereka. Menyadari bahwa itu bukan murni cita-cita mereka. Itu adalah cita-cita dari lingkungan sekitar yang dititipkan dalam alam sadar mereka. Hanya profesi-profesi seperti itu yang pernah mereka kenal. Mereka belum mengenal lebih banyak profesi lain di luar sana. Kelas Inspirasi adalah jembatan yang sangat istimewa untuk mereka mengenal dunia luar.

Berdasarkan pengamatan ketika di kelas, mereka semua sesungguhnya punya potensi-potensi yang sangat besar. Potensi yang tersimpan di pojok alam bawah sadar mereka. Potensi yang belum tergali:

–       Ketika saya bertanya ada yang ingin jadi pemimpin, salah satu di antara 24 anak yang ada di ruangan itu akan selalu mengangkat tangan. Itu adalah potensi dia yang sesungguhnya. Kelak adik ini akan menjadi seorang pemimpin yang hebat.

–       Ketika kutanya kita akan bernyanyi apa. Ada yang langsung mengutarakan pendapat dan dengan sdikit rayuan ia mau jadi pemimpin teman-temannya bernyanyi. Ia adalah calon konduktor besar di masa depan mengalahkan Noorman Widjaja. Konduktor kelas dunia asal Sumatera.

–       Ada yang ketika di kelas kerjanya suka mencolak-colek temannya. Sesungguhnya anak ini berpotensi untuk menjadi seorang public figur hebat dengan relasi yang banyak di kemudian hari. Dia adalah anak sanguin yang ingin selalu di perhatikan.

–       Ada juga yang malu-malu duduk di pojokan. Bisa saja ia kelak menjadi seorang profesor. Ini karena saya ingat dengan salah seorang teman yang tipe serupa, duduk di pojokan diam. Begitu ditanya “ngapain, diem-diem aja dari tadi?” dengan santai tanpa ekspresi dia jawabnya “Lagi mikir”. Wahahaha. Berat.

–       Waktu saya membagikan kertas cita-cita, ada yang sibuk menunjuk temannya yang belum kebagian. Sibuk menyuarakan ketika temannya tidak punya alat tulis. Anak ini sangat berbakat menjadi seseorang yang bekerja di bidang manajemen. Mungkin bisa saja dia kelak menjadi seorang event organizer yang hebat dan memiliki jaringan luas.

Setiap adik-adik ini memiliki potensi yang berbeda. Jadi kelak tidak akan ada 40 persen bahkan 80 persen itu, jika mereka sudah mengerti passion-nya. Panggilan hidupnya. Saya menantikan saat itu. Saya menantikan bintang-bintang yang bersinar dari gunung di salah satu sisi Polewali Mandar ini.

********

Untuk para bintang-bintang kecil di gunung sana:

Jangan pernah mengerdil karena lingkunganmu

Jangan cabik-cabik kami pejuang peradaban sebelummu dengan asa yang hilang

Kalian adalah anugrah besar yang di titipkan Ilahi untuk semesta ini

Kalian adalah pilar-pilar yang akan berdiri kokoh memegahkan negeri ini

Kalian adalah mercusuar-mercusuar yang menerangi jalan pelaut tersasar

Tetaplah teguh dan setia pada mimpi-mimpimu

Jadilah seperti gunung dan pantai yang mempesona di negeri kita

Gunung yang bersedia menonjol diterpa badai agar bumi tetap stabil

Pantai yang teguh, sabar dan setia, meski ombak berkali-kali menerjangnya

Tidak ada jaminan untuk kalian akan hidup dengan mudah nantinya,

Tapi pastikan kehidupan yang sekali ini berarti.

Agar perut bunda pertiwi tempat berbaring di akhir bangga memelukmu.

********

Untuk sahabat-sahabat relawan:

Mari lanjutkan kerja indah kita ini!!!

Salam Inspirasi!!!!

“Hari yang indah itu ketika loe ngga pernah menyesal sedikit pun untuk hal-hal yang loe udah lakuin di hari itu”

Advertisements

Sekali jadi panutan seumur hidup

Share Your Konwledge, Share Your Information to better life

Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk bergabung ke Kelas Inspirasi. Informasi kelas inspirasi saya dapatkan dari wall facebook seorang teman. Coba mendaftar di Wilayah Sulsel kota Palopo. Sengaja memang saya mengambil kota Palopo karena ada beberapa perimbangan :

  1. Saya belum pernah ke palopo
  2. Palopo adalah kota terjauh dari kota Mamuju yang menyelenggarakan KI di Sulsel

Sampai di kota Palopo dengan menggunakan Bus Bintang Marwah saya langsung menuju ke Hotel Risma untuk istirahat sebelum mengikuti briefing malam nanti.

Sayang sekali karena capek saya akhirnya ketiduran pada saat briefing dilaksanakan saya ketiduran dan tidak sempat mengikuti briefing KI yang dilaksanakan di  Auditorium Saokotae  Rujab  Walikota Palopo di jalan veteran.

Sedih rasanya…Galau……. Jauh-Jauh datang ke Palopo dan ketiduran..

Akhirnya besok pagi saya harus segera bersiap-siap untuk bertemu dengan relawan dan mendapatkan Tim yang bertugas di SD Padanglambe. Saya bersama dengan Pak Aris Suciadi (Seorang tentara), Pak Salahuddin (Kadispora Palopo) dan pak Jun Fotografer dan Videografer menuju ke Luar kota Palopo memasuki jalan yang sedikit sempit dan berbatu.

Mendapat sambutan yang hangat dari Segenap jajaran sekolah yang lebih banyak dihuni oleh anak-anak dari Keluarga Petani dan Tukang becak ini membuat saya semakin senang. Hawa inspirasi sudah mulai muncul.

Kelas VI menjadi kelas pertama..

Wajah dan semangat yang berbinar-binar menjadi penyemangat bagi saya untuk segera dapat memulai..

Hallo——-

Hallo dengan lebih keras oleh anak-anak ini.

Setelah memperkenalkan diri saya mulai menggali cita-cita mereka. Hanya ada dua cita-cita yang ada dilkelas ini. Laki-laki semuanya mau menjadi guru dan perempuan semuanya menjadi Dokter. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Anak-anak SD menurut kami pribadi hanya mengenal sedikit saja mengenai profesi da cita – cita yang ada. Dokter, Polisi, guru, pilot hanya sebagian kecil saja yang mereka tau tentang profesi yang ada.

DSC_0026

Kelas inspirasi menjadi media untuk berbagi pengalaman dan sharing kepada anak-anak lebih dini untuk mengenalkan profesi yang ada dan bagaimana jalan untuk mencapainya. ini penting dilakukan sehingga anak-anak tesebut sudah memiliki gambaran tentang perencanaan cita-cita yang di inginkannya.

Kelas Inspirasi….

Memberikan semangat baru kepada kami untuk belajar bersama dengan relawan

Beragam profesi yang ada..dengan titik “Sukarela” menjadi sesuatu yanga agak jarang ditemukan di Negeri Ini..

So—Bagaimana dengan anda kawan..Yuk Join ke Kelas Inspirasi berikutnya..

Ayo kawan hanya sehari sekali dalam hidup anda untuk menginspirasi mereka seumur hidup

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi.

Mari berbagi cerita yang dapat menumbuhkan cita. Jejak langkah profesimu sebagai awalnya. 
Sudah saatnya para profesional turut mengambil peran dalam pendidikan anak bangsa.

Kondisi Malaria Sulawesi Barat

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millennium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan oleh hewan bersel satu (protozoa). Plasmodium yang ditularkan melaui gigitan nyamuk Anopheles. Wilayah endemis malaria di Sulawesi Barat  pada umumnya adalah desa – desa terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan social ekonomi masyarakat yang rendah.

Direktorat Jenderal PP&PL Kementerian Kesehatan telah menetapkan stratifikasi endemisitas malaria di suatu wilayah di Indonesia menjadi 4 strata yaitu:Endemis tinggi bila API > 5 per 1.000 penduduk; Endemis sedang bila API berkisar antara 1 – < 5 per 1.000 penduduk; Endemis rendah bila API 0 – 1 per 1.000 penduduk; Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) atau API = 0.

Guna mencapai target yang di canangkan secara nasional maka ada beberapa program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat diantaranya sebagai berikut :

  1. Gebrak Malaria yang bertujuan untuk memastikan 80% dari masyarakat yang beresiko terjangkit malaria mendapatkan perlindungan melalui metode pengendalian vector yang sesuai keadaan setempat; 80% penderita malaria didiagnosis dan diobati dengan menggunakan antimalarial yang adekuat; 80% perempuan ibu hamil didaerah penularan yang stabil mendapat perawatan pencegahan berkala (IPTp); dan beban akibat penyakit malaria berkurang sampai 50% dan pada tahun 2015, penyakit dan kematian akibat malaria berkurang 75 persen dibandingkan dengan tahun 2005, tervapainya target MDG dan intervensi efektif diterapkan secara universal
  2. Penelitian Malaria terpadu kerjasama Universitas Hasanuddin dengan Dinas Kesehatan Sulawesi Barat. Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Mamuju yang merupakan daerah endemis malaria tinggi di Sulawesi Barat dan berlangsung selama 3 tahun mulai 2010 – 2012.

Di Sulawesi Barat terdapat dua kabupaten yang termasuk dalam daerah endemis tinggi yakni Mamuju dan Mamuju Utara. Kondisi wilayah yang ada menjadi salah satu faktor tingginya kasus malaria di kedua wilayah tersebut di bandingkan dengan wilayah lain di Sulawesi Barat.

API Sulawesi  Barat pada tahum 2010 adalah 6,7 per 1.000, mengalami penurunan menjadi 5,9 per 1000 penduduk Sulawesi barat pada tahun 2011 dan menjadi 2,6 pada tahun 2012.  Di hubungkan dengan target MDGs angka API Sulawesi Barat masih sangat tinggi. Begitupula dengan target nasional yang yang menargetkan jumlah kasus kejadian malaria menjadi kurang dari 1 per 1000 kasus malaria positif yang ditemukan melalui pelayanan rutin. Sulawesi Barat mesti memacu diri untuk mencapai target nasional Indonesia bebas malaria tahun 2030

Angka Kematian Bayi Sulbar meningkat, Efektifitas program dipertanyakan??

Angka kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0-12 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB dapat menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hami, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan social ekonomi. Bila AKB disuatu wilayah tinggi, berarti status kesehatan diwilayah tersebut rendah.

AKB di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2012 sebesar 14,5/1000 kelahiran hidup, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 11,6/1000 kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan target Nasional dalam RPJMN 24/1000 kelahiran hidup, maka AKB Provinsi Sulawesi Barat sudah melampaui target Nasional, demikian juga bila dibandingkan dengan target yang diharapkan dalam MDD (Millennium Development Goals) tahun 2015 yaitu 23/1000 kelahiran hidup.

Image

Peningkatan AKB di Provinsi Sulawesi Barat satu tahun terakhir  dapat memberi gambaran pelayanan kesehatan yang meningkat  secara keseluruh lapisan masyarakat.

Sebaliknya meningkatnya AKB memberikan “pertanyaan besar” tentang efektifnya programn kesehatan provinsi Sulawesi Barat.

Berdasarkan data Profil kesehatan Provinsi Sulawesi Barat  Kabupaten dengan Angka Kematian Bayi tertinggi pada tahun 2012 adalah kabupaten Mamuju dengan AKB sebesar 18,26/1000 Kelahiran hidup atau sebanyak sedangkan yang terendah adalah Kabupaten  Mamasa 6/1000 kelahiran hidup.  Angka kematian bayi yang bervariasi dan tidak merata ditiap kabupaten  merupakan masalah pelayanan kesehatan. Akses pelayanan  yang tidak merata ditiap kabupaten memerlukan intervensi yang  berbeda. 

Dengan melihat gambaran diatas maka ada sejuta pertanyaan yang muncul dibenak kami selaku bagian dari pelaksana kesehatan yang ada. Data diatas hanyalah data yang tercatat di sarana kesehatan. Data AKB akan lebih besar jika melihat hasil SDKI tahun 2012 yang dilaksanakan oleh BPS.

Masih banyak yang perlu diperbaiki…masih banyak memang…Dan tentunya keikhlasan dan kesungguhan dalam bekerja menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong peningkatan kinerja petugas kesehatan dalam penurunan Angka Kematian bayi.

Maaf ini Bukan salah Kita

Saya copas dari rekan dokter di sosial media;
 
Mengutip tulisan TS SpOG yg bertugas di RSUD dr Soetomo (PPK III) : MAAF, INI BUKAN SALAH KITA…..

Akhirnya, yang saya takutkan terjadi juga. Saya ‘harus’ bertemu dengan pasien BPJS, yang ternyata adalah istri dari seorang teman sejawat dokter umum.

Pasien primigravida, datang jam setengah empat sore ke UGD dengan keluhan ketuban pecah dan letak lintang. Pasien tidak pernah ANC di saya. Setelah dihitung, usia kehamilannya masih sekitar 35 minggu. ANC terakhir adalah sebulan yang lalu di SpOG yang lain. Dari anamnesis, ternyata si pasien punya riwayat gula darah tinggi. Itu saja yang bisa saya gali (sungguh hal tidak menyenangkan bagi seorang SpOG bila ‘kedatangan” pasien yang tidak pernah ANC kepadanya ok harus meraba2 masalah pada pasien).

Dan episode berikutnya, adalah episode2 yang harus membuat saya menangis tak terperikan dalam hati. Pasien saya rencanakan SC cito. Pertanyaan yang pedih ketika dokter jaga menghubungi saya,”dokter mau mengerjakan pasien BPJS?”. Pedih, karena semua sejawat SpOG pasti tahu nominal biaya paket SC. Sekitar 3-4 juta. Itu total Jenderal, sudah termasuk sewa OK, obat bius, benang benang jahit, perawatan di ruangan, infus dan obat di ruangan. Lalu berapa honor yang harus diterima seorang SpOG? Tergantung. Yah, tergantung sisa hal2 di atas. Bisa saja cuma 60 ribu seperti yang pernah dialami sejawat saya. 

Tapi, bukan itu yang membuat saya pedih. Toh, selama ini, kami para dokter sudah biasa mendiskon pasien, menggratiskan pasien dll. Yang membuat pedih adalah pertanyaan itu. Ini soal hati nurani. Apa mungkin saya menjawab tidak???
Pedih berikutnya, adalah ketika saya harus menunggu satu jam lebih untuk mendapatkan kepastian jadi tidaknya pasien ini operasi. Katanya, masih menunggu proses administrasi BPJS yang katanya online nya sedang lemot. Dan benar2 hati saya harus deg2an bercampur pedih itu tadi. Mau menunggu sampai kapan.Sampai jadi kasus kasep? Sementara urusan administrasi bukan wewenang kami para dokter.

Setelah dengan sedikit pemaksaan, pasien akhirnya bisa sampai di kamar operasi. Lagi2 saya harus pedih. Berdua dengan sejawat anestesi, kami harus berhemat luar biasa. Saya sibuk berhemat benang, dan dia sibuk memilihkan obat bius yang murah meriah. Aduhai, operasi yang sama sekali tidak indah buat saya….

Selesaikah pedih saya? Ternyata belum. Pasca operasi, saya dihubungi apotek. “Dok maaf, obat nyeri nya tidak ditanggung, obat untuk mobilitas usus juga tidak ditanggung,” hiks….Apakah kami para dokter ini jadi dipaksa bekerja di bawah standar oleh pemerintah? Dan, saya pun ikut merasakan betapa pasien masih merasakan kesakitan pasca SC. Sungguh, maaf, ini bukan salah kita, pasien ku sayang….

Bahkan, obat nyeri yang oral pun terpaksa bukan yang biasa kami berikan. Pedih dan perih hati kami. Seperti inikah pengobatan gratis yang dijanjikan oleh Pemerintah? (Tapi sebenarnya tidak gratis bagi PNS, karyawan, buruh dan orang mampu yang nanti dipaksa ikut BPJS). Kami harus bekerja dengan pengobatan ala kadarnya yang membuat kesedihan luar biasa bagi kami. Kami merindukan pasien2 tersenyum bahagia.
Dan…kepedihan yang paling2 pedih adalah harus menghadapi kenyataan bahwa malam ini, pasien BPJS saya adalah istri seorang sejawat dokter umum yang tercatat sebagai PNS di sebuah Puskesmas. Bayangkan, seorang ujung tombak lini depan pelayan kesehatan yang notabene pekerja Pemerintah, harus mendapatkan pelayanan BPJS seperti ini. 

Dan…menangislah saya, karena kalau BPJS tetap berjalan seperti ini, bukannya tidak mungkin, saya dan kita semua akan mengalami hal yang sama dengan istri sejawat saya ini. Karena kelak, BPJS ini wajib untuk semua rakyat dan semua RS. Karena pemerintah pun menjadi tukang paksa bagi seluruh isi negerinya..,,Rakyat dipaksa ikut BPJS, karyawan swasta harus ikut BPJS, seluruh RS wajib melayani BPJS dan dokter pun harus melayani sesuai standar BPJS yang ala kadarnya…

Maaf, tapi ini bukan salah kita….

 

Jaminan Kesehatan Nasional yang didendangkan 1 januari 2014 diharapkan menjadi angin segar dan menyejukkan bagi yang terkena hembusannya. 

Rencananya memang seperti itu..

 

Namun  ketika membaca tulisan diatas dan masih banyak tulisan lain yang hampir sama dan bahkan lebih memilukan, JKN oleh sebagian orang di anggap menjadi sebuah program yang gagal

 

Namun menarik sekali  apa yang dikatakan oleh Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany  Di awal pelaksanaan JKN, BPJS Kesehatan perlu lebih fleksibel, Masa transisi ini bisa berlaku 3-6 bulan.

Selama masa itu, rumah sakit seharusnya bisa menerima pasien tanpa surat rujukan. Selanjutnya, keluarga pasien diminta mengurus surat rujukan. Dalam waktu bersamaan dilakukan edukasi dan sosialisasi secara masif.

Fleksibilitas aturan sistem rujukan memang akan membuat anggaran BPJS Kesehatan membengkak. Namun, itu risiko atas lemahnya sosialisasi yang dilakukan BPJS Kesehatan. Fleksibilitas ini untuk menjaga citra dan harapan masyarakat terhadap JKN agar sistem yang baik ini tetap berjalan.

Pakar Ekonomi Kesehatan Prof. Hasbullah menyarankan BPJS Kesehatan segera menambah jumlah personel yang ditempatkan di rumah sakit maupun tempat pendaftaran untuk meredam kebingungan masyarakat. Mereka harus dibekali kemampuan untuk menerjemahkan kebijakan besar yang kompleks menjadi sederhana serta mudah dipahami pasien dan keluarga, tenaga kesehatan, maupun rumah sakit.

Saran serupa dikatakan pendiri Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan Universitas Gadjah Mada, prof. Laksono Trisnantoro. Masa transisi bukan berarti membelokkan aturan yang dirancang untuk memperbaiki sistem kesehatan, tetapi agar tidak ada peserta yang dirugikan.

Sistem rujukan merupakan koreksi atas pola berobat masyarakat yang enggan ke fasilitas kesehatan dasar dan langsung berobat ke rumah sakit. Akibatnya, rumah sakit dengan kemampuan layanan spesialis dan subspesialis penuh pasien dengan penyakit ringan.

Dalam JKN, pengobatan berjenjang diterapkan secara ketat. Akibatnya, sebagian peserta mengeluhkan tidak dilayani rumah sakit karena tidak memiliki surat rujukan dari fasilitas kesehatan dasar.

 

So..semoga JKN semakin cantik setiap harinya..Image

Catatan Seminar san Workshop Penurunan AKI dan AKB Sulawesi Barat dalam mencapai target MDGs

Selama 3 hari ini saya berkesempatan mengikuti Seminar dan Workshop Strategi Akeselerasi Provinsi Sulawesi Barat dalam Penurunan AKI dan AKB untuk mencapai Target MDgs 2015 yang dilaksanakan oleh Prakarsa bekerja sama denga Yayasan Mitra Bangsa yang dilaksanakan di Hotel Anugrah Mamuju.

Ada beberapa materi yang disampaikan dalam kegiatan ini :

  • Arah dan strategi kebijakan Penurunan AKI dan AKB di Indonesia (Peneliti Prakarsa)
  • Rekomendasi Kebijakan Akselerasi Penurunan AKI dan AKB (Prakarsa)
  • Isu terkini pencapaian target MDGs 2015 untuk Kesehatan Ibu & Anak di Sulbar (Akademisi FKM Unhas)
  • Analisis Data Kesehatan Kab Majene (Dinkes Provinsi)
  • Capaian dan Strategi Kebijakan Penurunan AKI dan AKB Sulawesi Barat (Dinkes Prov Sulbar)

Dalam materi yang disampaikan  kaitannya dengan Hasil SDKI 2012 menunjukkan Angka Kematian Ibu meningkat drastis dari 228 /100.000 KH pada tahun 2007 menjadi 359/100.000 KH pada tahun 2012. Melihat data di atas maka pergerakan penurunan kesehatan Ibu seolah-olah kembali ke kondisi 15 tahun yang lalu.

Ada beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beberapa pakar, praktisi kesehatan, tenaga kesehatan dan Non Kesehatan :

  1. Sistem Perhitungan yang digunakan SDKI?
  2. Program Kesehatan Ibu mengalami kegagalan total?
  3. Daya ungkit Jampersal, BOK dan Pembiayaan Kesehatan lainnya?
  4. Bagaimana menghitung Sinkrnisasi Data dengan Baik antara Pusat dengan Daerah, Data Survei kadang berbanding sangat jauh antara Survei dengan data laporan kesehatan, seolah – olah antara langit da bumi,
  5. Gagalnya Desain KB (Adanya kecebderungan pernikahan pada usia muda) karena minimnya pengetahuan karena fungsi reproduksi
  • SDKI jangan dipersoalkan sebab fakta-fakta dilapangan sepertinya memang seperti itu.
  • Hal ini menunjukkan Kualitas Pelayanan Kesehatan ibu yang masih sangat kurang dan Kualitas lingkungan ibu yang sangat buruk. Kunungan Ibu Hamil Pertama kali (K1) di sarana kesehatan tinggi dan cenderung mengalami trend peningkatan yang positif dan begitupun dengan  K4 mengalami trend  yang sama namun berbanding terbalik dengan Angka Kematian Ibu yang sangat Tinggi. AKI tinggi itu karena kualitas pelayanan kesehatan yang masih sangat “Kurang Berkualitas”

Tenaga kesehatan, Kita perlu bercermin  bahwa Ada sesuatu yang tidak focus yang telah dilakukan. Bayangkan 359 dari 100.000 KH meninggal dan mati. Betapa miris fakta yang telah ditunjukkanoleh data ini.

Ketika ingin melihat dan menelaah secara lebih dalam  maka dengan meninggalnya Ibu melahirkan akan menghasilkan beberapa kondisi, Banyak Laki2 jadi duda, Anak tidak akan ASI Ekslusif, Pola Asuh anak yang tidak lengkap dan masih banyak masalah lainnya

Secara konsep arah dan kebijakan pembangunan Kesehatan sudah berada pada jalur yang tepat “on Trek”. Tapi lemah pada pelaksanaan Aplikasi dilapangan. Tenaga Kesehatan yang tidak berkualitas dan peran lintas sektor ditengarai menjadi salah penyebab dari meningkatnya Angka Kematian Ibu.

Tenaga Kesehatan tidak akan mampu melakukan penurunan Kematian Ibu tanpa peran dan bantuan serta masukan dan input dari linta sektor.

Sasaran Kebijakan Tahun 2014 

  • Menurunkan AKI sebesar 280 per 100.000 kelahiran hidup
  • Menurunkan AKB menjadi 30 per 1000 Kelahiran Hidup
  • Menurunkan AKABA menjadi 38 per 1000 Kelahiran hidup
  • Mendorong perbaikan sistem pelayanan kesehatan ibu dan anak didaerah – daerah serta memperkuat kebijakan fiskal untuk program kesehatan ibu dan anak
  • Menyediakan pelayanan KIA di pusat-pusat pelayanan terutama di desa sesuai SPM
  • Meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan KIA
  • Revitalisasi Program KKB dengan penguatan kelembagaan BKKBN dan BKKD
  • Menurunkan TFR menjadi 2,4 yang diarahkan pada kelompok usia muda (15-19 tahun)

Catatan hari Pertama : Seminar

Share Your Information, Share Your Knowledge To Better Life