Sahabat keluarga Mamasa

Percayalah, bahwa adanya orang-orang yang terlahir sebagai penggerak perubahan dapat memunculkan pejuang-pejuang lain yang akan menggerakkan semesta untuk ikut serentak maju”.

ImageLelaki tersebut saya kenal dengan panggilan Yusuf Rahmat, seorang Kepala desa di Desa Balla Kecamatan Balla Kabupaten Mamasa. Kabupaten yang termasuk jejeran 10 terjelek IPKM tahun 2007   melalui survei yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan.

Mantan fasilitator PNPM Mandiri yang kemudian mencoba menyusuri jalannya “film kehidupan” dengan mencalonkan diri sebagai kepala Desa dan akhirnya di pilih oleh Tuhan dan masyarakat Desa Balla untuk memegang amanah sebagai Presiden Desanya.

Dalam pandangan saya dia adalah salah seorang cendekiawan yang cukup langkah untuk ditemukan di daerah yang berlabel  “KONDOSAPATA UWAI SIPALELEANG”. Memilih hidupnya untuk penjadi pelayan masyarakat desanya.

“Saya tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk membantu kesehatan” ujarnya pada saat kalakarya tanggal 11 Juli 2013 lalu di Matana Hotel di atas bukit tinggi di bawah pepohonan rindang di Mamasa kala itu.

Di sanalah menjadi awal dan permulaan saya berkenalan dan berinteraksi dengannya.

Seingat saya dia adalah salah satu dari  tiga penyampai aspirasi :

  1. Kepala desa, dia baru, tertarik dengan dialog yang tidak diduganya bahwa acara bakal seperti ini; menurutnya kelemahan selama ini adalah komunikasi. Tidak terjadi dialog dari atasan dengan kepala desa, sehingga tidak jelas apa yang sebenarnya seharusnya diterima oleh desa yang dapat timbulkan kecurigaan – kecurigaan
  2. camat, yang merasa bahwa kondisi mamasa ini karena alam, terus dukungan pusat kurang besar untuk Mamasa yang miskin dan tertinggal, sumber daya manusia msmasa memang lemah
  3. staf pusk, yg pandai retorika, kalimat2nya bersayap nabrak sana sini, (biasa) mengembangkan kecurigaan bahwa pimpinan2 tdk terbuka dg dana, tdk adil, dan ‘kami hanya bisa berdoa smg memproleh pimpinan yg berhatinurani dan jujur’, ya matanya, ya gayanya, mencoba mengajak forum utk terjebak dlm ‘Mamasa ini Seperti Benang Ruwet yg tdk jelas dari mana dan bagaimana mengurainya’

dialog pada saat itu berkembang dengan tiga materi pancingan itu.

isu2 yg mudah berkembang dan sering berkembang dlm komunitas masyarakat maupun level bawahan dr birokrasi, kmudian mendptkan salurannya dlm dialog bebas ini

seperti ciri dialog yg bisa menyakitkan (krn sindiran2 liar), bhkan kmdn menimbulkan rasa sakit bersama (angka2 capaian yg jelek), dan penerimaan tanpa sarat sesama pendialog( yg baru mulai nampak dg smua lancar mnanggapi lawan dialog, tanpa nada mnyerang atau bertahan), dialog ini berjln spt tabiatnya

dialog yang kemudian di arahkan oleh Suhu Pak Sawijan kpd upaya menghancurkan kebiasaan2 merasa lemah, tdk mampu kalau tdk ada bantuan, mnunjuk bhw yg  salah org lain, mersa bahwa pimpinan sll memanfaatkan bawahan, pimpinan tdk adil bagi rejeki, kurang komunikasi, dan yg sejenisnya

Pak Sawi mendramatisir kalimat2 yg berkembang utk mnyadari bhw sifat2 buruk itu tdk akan pernah mampu memajukan Mamasa, bahkan juga tdk akan mnjdkan mrk semua sbg kluarga dan pribadi maju, dg sifat2 spt itu mrk akan menghasilkan klg dan kturunan yg lemah dan tak maju, dlm bidang apapun

sy tdk mngulangi apa yg bisa dilakukan oleh kawan2 propinsi Sulbar yg sangat gigih utk memanfaatkan gerakan pdbk ini menggebrak kebekuan hub antara prop-kab-sampai desa.
mnrt saya mrk berhasil, meski blm maksimal.

sy ingin laporkan bhw forum spakat utk perbaiki komunikasi.
slain itu akan diluncurkan di desa Petugas Sahabat Kluarga Mamasa.

Kades / Lurah akan mnugasi 3-4 orang Staf Kades/Kaur/Org dg tugas khusus utk kliling dr rumah ke rumah.

Mereka akan ditugasi utk menyentuh slrh warga desa; dan melakukan identifikasi apakah dlm kluarga itu ada warga dg kbutuhan kesehatan.

Kmudian secara berkala mereka melapor ke Bides bhw kluarga2 ttt memerlukan layanan Bides, jk di desa tdk ada Bides, mk Ptugas itu mngatur agar Bikor dpt melayani klg2 ttt dg mengunjungi atau pada hr buka posyandu.

Pusk akan membantu mempermudah tugas teknis mengenali kbutuhan kesehatan klg, dan akan diprioritaskan dl utk khamilan, imunisasi, dan gizi; scara perlahan jk kelak petugas ini berjalan lancar akan dikembangkan kpd layanan lainnya.

kmudian Pusk akan mngatur nakes yg jmlnya terbatas itu utk berfokus pd sasaran yg ditemukan oleh ptugas itu

camat akan menghimpun kekuatan utk mndukung klancaran ptugas itu.

Ptugas itu akan memakai Kostum/Rompi yg mncolok utk mudah dikenali dg Tulisan Punggung ‘Sahabat Keluarga Mamasa’

Kades dan Camat serta Ka Pusk sepakat utk memulai langkah ini, yg dinilai sebagai suatu upaya yg ‘mungkin’ utk dila kukan dan sebagai terobosan.

forum yakin bhw tanpa terobosan maka Mamasa tetap akan mnjd Rangking 5 atau 6 di Sulbar, dan tertinggal dlm jajaran rangking Indonesia.

sy tdk tahu apakah ini akan berhasil, tetapi forum2 non teknis membangun ksadaran, membangun komunikasi, mengurai dugaan2 diantara staf di lapangan, perlu dilakukan.
Nampaknya jika upaya2 semacam ini kita lupakan, maka upaya2 terobosan kita spt BOK, Jampersal, Jamkesmas, bahkan SJSN akan mnjd isu liar yg melemahkan sendi2 kekompakan pasukan kesehatan di ujung sana, sementara pikiran2 menyimpang di lapangan mudah sekali menular.

dialog mesti dibudayakan
dialog lbh hidup jk digunakan angka2 / data2 yg spesifik ttg kinerja / capaian para pendialog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s