Gambaran Kesehatan Sulbar

Gambaran masyarakat Provinsi Sulawesi Barat masa depan yang ingin dicapai oleh segenap kelompok masyarakat melalui pembangunan kesehatan Provinsi Sulawesi Barat adalah “Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas Dan Mandiri Pada Tahun 2016”. Untuk mewujudkan visi tersebut ada lima misi yang diemban oleh seluruh jajaran petugas kesehatan di masing-masing jenjang administrasi pemerintahan, yaitu Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat; Mengupayakan pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan; Menjamin Ketersediaan obat esensial sesuai standar; Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.Guna mempertegas rumusan visi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat “Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas Dan Mandiri Pada Tahun 2016” maka ditempuh strategi percepatan berupa Peningkatan cakupan pemeriksaan dan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan; Peningkatan pengetahuan dan partisipasi masyarakat terhadap pelayanan kesehan yang berkualitas ditingkat dasar maupun rujukan terutama bagi bayi; Peningkatan pengetahuan dan partisipasi masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan balita di sarana pelayanan kesehatan; Peningkatan cakupan kunjungan balita ke Sarana Pelayanan Kesehatan; Meningkatkan upaya promosi kesehatan dalam mencapai perubahan Perilaku dan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat; Meningkatkan keterpaduan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan; Fasilitasi Peningkatana Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Adapun situasi derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Sulawesi Barat adalah sebagi berikut :
A. ANGKA KEMATIAN
Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi atau tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologic secara tidak langsung. Disamping itu dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan.
1. Angka Kematian Bayi
Angka kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0-12 bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB dapat menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan antenatal, status gizi ibu hami, tingkat keberhasilan program KIA dan KB, serta kondisi lingkungan dan social ekonomi. Bila AKB disuatu wilayah tinggi, berarti status kesehatan diwilayah tersebut rendah.
AKB di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2012 sebesar 14,5/1000 kelahiran hidup, meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2011 sebesar 11,6/1000 kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan target Nasional dalam RPJMN 24/1000 kelahiran hidup, maka AKB Provinsi Sulawesi Barat sudah melampaui target Nasional, demikian juga bila dibandingkan dengan target yang diharapkan dalam MDD (Millennium Development Goals) tahun 2015 yaitu 23/1000 kelahiran hidup.
Pe AKB di Provinsi Sulawesi Barat satu tahun terakhir dapat memberi gambaran pelayanan kesehatan yang meningkat secara keseluruh lapisan masyarakat.
Angka Kematian Bayi di Provinsi Sulawesi Barat
Tahun 2007-2012

 

Sumber : Program KIA Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, 2012

Kabupaten dengan Angka Kematian Bayi tertinggi pada tahun 2012 adalah kabupaten Mamuju dengan AKB sebesar 18,26/1000 Kelahiran hidup atau sebanyak sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Mamasa 6/1000 kelahiran hidup
Gambar 3.6
Angka Kematian Bayi Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat Tahun2011

Sumber : Program KIA Dinas Kesehatan Provinsi, tahun 2012

 

Angka kematian bayi yang bervariasi dan tidak merata ditiap kabupaten merupakan masalah pelayanan kesehatan. Akses pelayanan yang tidak merata ditiap kabupaten memerlukan intervensi yang berbeda.

Tabel 3.1
Jumlah kematian bayi menurut Kabupaten tahun 2011 dan 2012

Sumber : Program KIA Dinas Kesehatan Provinsi 2012

 

 

2. Angka Kematian Balita
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian balita (1 – 5 tahun) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKABA dapat menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak balita, tingkat pelayanan KIA/Posyandu, tingkat keberhasilan program KIA/Posyandu, dan kondisi sanitasi lingkungan.
Angka kematian balita atau AKABA menggambarkan peluang untuk meninggal pada fase antara kelahiran dan sebelum umur 5 tahun. Berdasarkan laporan Dinas kesehatan 5 Kabupaten di Propinsi Sulawesi Barat, Angka kematian balita tahun 2007 sebesar 17,2 per 1.000 kelahiran hidup, tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 11,4 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2009 meningkat lagi menjadi 14,02 per 1000 kelahiran hidup, tahun 2010 menurun menjadi 16,42 per 1000 kelahiran hidup, tahun 2011 menjadi 12,1/1000 Kelahiran hidup dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 15,4 per 1000 kelahiran hidup . Hal ini menandakan Angka Kematian Balita 3 tahun terakhir sifatnya fluktuatif
Kasus kematian Balita berhubungan erat dengan kondisi lingkungan, perilaku, infeksi penyakit, status gizi dan imunitas serta mutu dari pelayanan kesehatan. Format pelaporan program KIA yang selama ini digunakan tidak bisa mengakomodasi jumlah kematian balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas sehingga data kematian balita (1 – 4 th) tidak bisa diketahui.

Gambar 3.7
Angka Kematian Balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup
Propinsi Sulawesi Barat Tahun 2007-2012

Sumber : Program KIA Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, 2013

Pada gambar 3.7 nampak bahwa Angka Kematian Balita selama periode 2007-2009 menunjukkan flukstuasi, mengalami penurunan pada tahun 2011 dan kembali mengalami kenaikan pada tahun 2012. Pencapaian AKABA Sulawesi Barat sudah mencapai target MDGs yakni 32 / 1000 kelahiran hidup yang mesti dicapai pada tahun 2015
Data kematian balita ini termasuk dalam indikator pemantauan pada cakupan pelayanan anak balita (12-59 bulan). Jadi, kasus kematian yang terjadi tergantung dari peran tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan sesuai standar meliputi pemantauan pertumbuhan minimal 8x setahun, pemantuan perkembangan min 2x setahun dan pemberian vitamin A 2x setahun. Termasuk dalam pelayanan mendapatkan MTBS, khusus untuk anak yang sakit sehingga kematian dapat dicegah.
3. Angka Kematian Ibu
AKI yang didefinisikan sebagai banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau bersalin per 100.000 kelahiran hidup yang disebabkan oleh kehamilan atau pengelolaannya, kecuali yang disebabkan oleh kecelakaan.
Angka kematian Ibu merupakan salah satu indikator penting yang merefleksikan derajat kesehatan di suatu daerah, yang mencakup tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan Ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu pada masa nifas.
Kesehatan Ibu hamil/bersalin dan AKI memiliki korelasi erat dengan kesehatan bayi dan AKB. Faktor kesehatan ibu saat ia hamil dan bersalin berkontribusi terhadap kondisi kesehatan bayi yang dikandung serta resioko bayi yang dilahirkan dengan lahir mati (still birth) atau yang mengalami kematian neonatal dini (umur 0-6 hari).

Gambar 3.8
Jumlah Kematian Ibu Menurut Kabupaten Tahun 2011 dan 2012

Sumber : Program KIA Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, 2013

Sebagai Provinsi baru Sulawesi Barat belum memiliki data statistik vital yang langsung dapat menghitung Angka Kematian Ibu (AKI). Jumlah Kematian Ibu didapatkan dengan mengumpulkan informasi dari Puskesmas semasa kehamilan, persalinan atau selama melahirkan. Seperti indikator kesehatan lain pada umumnya, terdapat perbedaan AKI antar wilayah di Sulawesi Barat. Berdasarkan data Jumlah Kematian Ibu di provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2012 di 5 (lima) kabupaten menunjukkan bahwa kabupaten Mamasa mempunyai jumlah kematian Ibu yang paling rendah yaitu 4 ibu di bandingkan dengan Mamuju 21 ibu yang meninggal pada tahun 2012.
Pemerintah sudah mengupayakan berbagai intervensi untuk menurunkan AKI. Pemerintah merasa segala upaya pelayanan kesehatan yang diberikan sudah apat dikatakan “cukup” secara kuantitas namun secara kualitas masih ada pihak-pihak yang meragukan, atau di duga kualitas pelayanan kesehatan di Sulawesi barat masih di bawah standar. Sayangnya upaya – upaya intervensi pelayanan kesehatan belum terukur secara kualitas, apakah kualitasnya baik, sedang atau buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s